Kelola Kebiasaan, Bawa Semangat Ramadhan Sepanjang Tahun

Ramadhan berlalu, bukan berarti kebiasaan baik ikut pergi. Pertahankan kebiasaan produktif dan terapkan sepanjang tahun.

Kenapa banyak yang cemas saat meninggalkan bulan Ramadhan? Tentu saja kita cemas, karena ‘tamu’ agung yang selama ini membuat ibadah-ibadah kita semakin produktif akan pergi. Selain itu kita juga tak tahu apakah tahun depan ‘tamu’ itu akan datang kembali atau kita keburu pergi. Sangatlah lumrah bila kita senantiasa merindukan Ramadhan, betapa tidak didalamnya banyak menyimpan kebaikan. Tak cuma dari segi kesetahan jasmani, ruhani dan semangat ibadah kita pun meningkat tajam selama puasa. Nah, kenapa tidak kita ‘bawa’ saja Ramadhan sepanjang tahun? Mulai dari semangat hingga suasananya.

Sangat disayangkan begitu menginjak Syawal ‘kobaran’ semangat ibadah itu padam begitu saja. Bukankah tujuan utama dari ‘latihan’ sebulan penuh agar kita makin baik menjalani hari-hari diluar Ramadhan. Pakar Tafsir Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab menyebutkan bahwa pokok puasa adalah implementasi setelahnya. Dalam Membumikan Al-Qur’an (2013) ia menjelaskan bahwa tujuan Allah menyeru umatnya untuk berpuasa adalah guna peningkatan ketakwaan semata. Takwa yang dimaksud adalah meneladani sifat-sifat-Nya yang 99. “Misalkan, Allah punya sifat Maha Pengampun dan Maha Pemaaf,” jelas Quraish Shihab.

Sama halnya dengan sifat Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang), perlu kita amalkan sehari-hari pula. Sehingga, tambah Quraish Shihab, rahmat dan kasih sayang Tuhan bukan hanya kita yang merasakan melainkan orang banyak, termasuk mahluk lain. “Demikian pula sifat yang lain, esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.” Selama bulan Ramadhan, kita ditunjukan bagaimana cara terbaik untuk meneladani ‘nama-nama’ baik milik Tuhan itu. Sebab, puasa adalah ‘peta’. semacam ‘how-to guide’ atau panduan cara kita meraih ketakwaan. Selama puasa, kita diajari cara mempertahankan semangat ibadah, menahan diri dari perbuatan dosa, dan senantiasa dekat dengan masjid. Ini semua adalah bekal perjalanan kita untuk menempuh hari-hari berikutnya.

Bulan Ramadhan ibarat pintu gerbang, yang membawa kita ke halaman yang lebih baik. Kita tak selamanya berdiri di gerbang bukan? Kita harus terus berjalan dan masuk. Hanya saja, banyak diantara kita, meskipun telah melalui Ramadhan berkali-kali, tetapi tetap saja ‘semangat itu’ tak terbawa. Inilah yang kemudian Emha Ainun Najdib sebut sebagai kemandekan kualitas puasa. Kolumis dan budayawan ini juga mengimbau agar pengetahuan kita tentang puasa perlu di tambah. Melalui Puasa itu Puasa (2005) Emha menyindir, “Puasa merupakan perang melawan nafsu. Cuma barangkali karena pengetahuan kita tentang musuh yang harus diperangi tidak bertambah, maka strategi dan taktik kita pun kurang berkembang.”

Selaku awam kita kerap memaknai puasa sebagai serangkaian kegiatan di bulan Ramadhan. Padahal, Ramadhan merupakan salah satu rangkaian dari sekian banyak ibadah selama satu tahun. Harapannya adalah pola-pola ibadah selama Ramadhan dapat menjadi role model ibadah-ibadah kita berikutnya. Betul kata Emha, bahwa kita perlu merekayasa bulan-bulan lain agar tampak seperti Ramadhan. Kenapa tidak? Bila bangun sahur kita pertahankan. Tilawah Al Qur’an kita teruskan. Shalat berjamaah di masjid kita jadikan kebiasaan. Termasuk meninggalkan ghibah dan perkataan tak berguna.

Melalui tulisan singkat ini, penulis mengajak agar kita semua punya perspektif baru tentang Ramadhan. Bila semula ibadah kita semarak hanya di bulan Ramadhan. Kini, bulan-bulan setelahnya pun kita turut semarakan pula. Pola ibadah produktif selama ini kita jadikan kebiasaan. “Tak ada saat-saat yang lebih nikmat melebihi situasi lapar, asing, dan sepi di hadapan Allah,” ungkap Emha. Saat-saat dimana kita hanya mempersembahkan ibadah khusus bagi-Nya. Biarlah semangat ini tetap menyala dalam hati, agar rindu kita akan Ramadhan tahun depan semakin kuat.

Rekayasa Rutinitas, Pertahankan Kebiasaan Baik

Berikutnya adalah pertanyaan bagaimana kebiasaan baik selama Ramadhan kita pertahankan. Seorang wartawan sekaligus pengamat kebiasaan, Charles Duhigg menjelaskan kepada kita bagaimana sebuah kebiasaan (habit) berkontribusi signifikan pada kesuksesan seseorang dalam hidup. Meski tak berbicara soal puasa dan Ramadhan, tapi Charles melalui The Power of Habit (2013) meyakinkan kepada kita untuk mengelola kebiasaan. Baginya, kebiasaan muncul karena rutinitas. Bahkan, beberapa orang tak menyadari bahwa kebiasaan buruk mereka berawal dari rutinitas sepele.

Lingkaran kebiasaan, begitulah Charles menyebut proses terbentuknya habit, adalah serangkaian proses berurutan dari; Pertama tanda, lalu rutinitas, dan diakhiri oleh sebuah ganjaran. Sebagai contoh, bila kita lapar. Gejala umum yang kita terima adalah, misalnya perut keroncongan, hal ini merupakan sinyal/ tanda bagi otak. Responnya adalah sebuah rutinitas yang biasa kita lakukan, yaitu makan. Sebagai ganjarannya, kita akan merasa kenyang. Begitulah sistem kebiasaan bekerja. Rutinitas hadir sebagai respon dari tanda, sedangkan ganjaran adalah hasil yang kita peroleh.

Lalu bagaimana dengan kebiasaan kita sehari-hari? Mungkinkah kita merubahnnya? Tentu saja hal itu sangat mungkin! Bukankah kita sedang melakukannya selama puasa. Bagi Charles, setiap perubahan memiliki ‘aturan emas’ yang berbunyi; kita tak bisa melenyapkan kebiasaan buruk, melainkan merubahnya. “Cara kerjanya adalah dengan menggunakan tanda dan ganjaran yang sama tetapi ubah rutinitasnya,” ungkapnya. Sebagai contoh, seorang perokok akan merokok (rutinitas) agar kembali bersemangat (ganjaran) kala ia bosan (tanda). Kita tak bisa melenyapkan rasa bosan pada kehidupan manusia bukan? Karena itu rubahlah rutinitas yang kita perlukan supaya kembali semangat. Misalkan dengan minum kopi, melakukan streching, atau baca Al-Quran. Sediakan ganjaran yang sama dan persiapkan rutinitas baru, itulah kira-kira yang ingin disampaikan Charles.

Cara terbaik melakukan hal itu adalah dengan menggunakan empat langkah sederhana ala The Power of Habit. Pertama, identifikasi rutinitas. Petakan terlebih dulu, rutinitas apa yang yangingin kita ubah atau pertahankan. Misalkan kita ingin mempertahankan rutinitas bangun pagi selama Ramadhan atau menjadikan tilawah sebagai kebiasaan. Dengan mengidentifikasi berati kita telah menetapkan tujuan. Kedua, perhatikan ganjaran apa yang kita dapat. Tentu saja, kita akan dengan mudah mengatakan bahwa ganjaran yang saya inginkan adalah mendapat pahala. Tapi apakah benar-benar pahala itu yang kita harapkan? Jawabnya tentu saja ya, dan ridho Ilahi harus kita tempatkan diurutan pertama.

Tapi, pernahkah kita merenung dan bertanya pada diri sendiri, mengapa sebagian orang begitu bersemangat tilawah di masjid bersama rekan? Atau mendengarkan ceramah ustadz kondang secara langsung jauh lebih asyik ketimbang mengkaji Islam lewat internet? Bukankah materi ceramahnya sama saja. Bisa jadi, ganjaran yang kita harapkan meleset sedikit dari dugaan. Pahala adalah niat utama kita, tapi pikiran dan hati kita menginginkan ganjaran yang lain. Misalnya,sosialiasi di majelis taklim atau sekadar ngobrol santai bareng teman selepas ibadah di masjid. Mungkin, inilah ganjaran yang kita harapkan sebetulnya. Tersimpan jauh di dalam benak kita, hingga masuk kedalam alam bawah sadar. Setelah kita tahu rutinitas kita, misalnya tilawah di masjid serta ganjaran yang mendorong kita melakukannya; bercengkrama dengan teman dan melepas penat. Kita menuju tahap berikutnya, yakni memelajari tanda.

Penelitian tentang psikologi dari University of Western Ontario (2003) membuat klasifikasi tanda kedalam lima kategori; lokasi, waktu, kondisi emosional, orang lain, dan tindakan sebelumnya. Misalkan, kenapa kita puasa? Karena ini bulan Ramadhan (waktu). Kenapa kita makan? Karena lapar (kondisi emosional). Kenapa kita datang ke majelis taklim? Bersosialisasi bersama rekan (orang lain), dan sebagainya. Pelajari tanda apa yang membuat kita ingin melakukan rutinitas tertentu. Saat tilawah misalnya, beberapa tanda yang Anda dapatkan adalah; bosan/ terdapat waktu luang (kondisi emosional), karena banyak orang yang melakukannya (orang lain), dan selepas shalat fardhu (tindakan sebelumnya). Identifikasi seperti ini penting dilakukan, agar kelak (di luar bulan Ramadhan) kita bisa ‘merekayasa’ tanda-tanda ini untuk mendorong rutinitas.

Setelah kita mendapaati lingkaran kebiasaan baik selama Ramadhan, maka langkah terakhir adalah menyusun rencana. Tentu saja untuk kita gunakan setelah bulan ini berakhir. Hal ini bukan rencana tertulis yang panjang lebar atau semacamnya, melainkan niat baik untuk berubah dibarengi ikhtiar sistematis agar lebih berdampak. Misalkan, kita kini tahu bahwa tilawah saat Ramadhan dipengaruhi beberpa faktor; kondisi emosional (waktu senggang), orang lain (mengaji bersama), dan aktivitas sebelumnya (selesai shalat), dan lokasi (di masjid). Maka yang bisa kita lakukan di luar Ramadhan adalah meluangkan waktu dengan mengajak teman kantor  kita untuk shalat berjamaah di masjid. Bila ‘tanda-tanda’ ini terpenuhi secara otomatis benak kita, hati kita, akan terdorong untuk mulai membaca Al-Quran. Insyaallah.

Merubah kebiasaan tentu bukanlah hal mudah, apalagi singkat. Diperlukan kesungguhan tekad dan strategi jitu. Selepas Ramadhan bukan mustahil beberapa diantara kita ada yang kembali ke kebiasaan ‘buruk’ masing-masing. Shalat tak berjamaah, tilawah sekadar angin lalu, apalagi ikut kajian-kajian islami. Tak peduli seburuk apapun, setidak-produktif apapun kebiasaan kita, ingatlah selalu bahwa selalu ada cara untuk memperbaikinya. Seperti diungkap sebelumnya, kebiasaan buruk tak mungkin dihilangkan tapi bisa dirubah (untuk selamanya). Bagaimana jika kita mulai sekarang?

Setiap habis Ramadhan. Hamba cemas kalau tak sampai. Umur hamba di tahun depan. Berilah hamba kesempatan. Rindu hamba tak pernah menghilang. Mohon tambah umur setahun lagi. (Bimbo – Setiap Habis Ramadhan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s