Hidup Untuk Hari Ini

kematian

Para tawanan akan baris dihadapan dinding. Satu persatu ditembak mati. Itu merupakan eksekusi biasa saat perang berlangsung. Ketika perang saudara terjadi di Spanyol (1936-1939), banyak orang yang yang dieksekusi mati karena memberontak. Salah satunya, Pablo Ibbieta yang menolak memberi tahu lokasi para informan. Bersama dua orang temannya, mereka dihukum mati. Eksekusi akan dilakukkan lima belas hari lagi.

Apa yang terjadi jika kita tahu kapan kita akan mati. Dua hari lagi Anda akan tertabrak mobil, sore ini terkena serangan jantung, atau dua tahun lagi waktu Anda sudah habis? Kematian merupakan tamu yang pasti datang. Hanya saja kita sudah terbiasa tak tahu kapan tamu itu datang, bukan begitu? Apa jadinya bila kita berada pada posisi Pablo? Bukan masuk sel karena memberontak. Tapi, ketika kita tahu kapan kematian akan datang.

Pablo adalah tokoh dalam Dinding (1939) salah satu cerpen karya filsuf Perancis, Jean Paul Sartre (1905 – 1980). Menceritakan pergulatan batin seorang tahanan yang hendak di eksekusi mati. Jelas Pablo resah, malam-malamnya tidak nyenyak. Setiap hari hanya keliling sel yang tak luas. Bersama temannya ia menghitung waktu. Sartre menggambarkan bagaimana kondisi psikologi seseorang yang hendak mati. Tepatnya, seseorang yang sudah tahu kapan ‘waktunya’. Mereka frustasi dan stres.

Terus saja Pablo memikirkan tentang hari eksekusi. Ia mulai menerawang masa lalu, mengingat kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, kenangan indah, juga kecerobohan dan dosa-dosa. Batinnya terus saja mengutuk-ngutuk diri sendiri. “Belum, aku belum siap. Beri aku sedikit waktu lagi,” gumamnya setiap malam. Siapa yang siap menatap kematian? Sesuatu yang terasa begitu cepat ketika ‘ia’ sudah didepan mata. Bahkan seorang alim sekalipun akan berkata, “bekalku belum cukup.”

Kedua teman Pablo dieksekusi sehari sebelum ia. Hal itu membuat stres semakin parah. Kini ia sendiri, menatap dinding sel. Besok ia akan mati. Pikirannya tak karuan, ia mulai menerima takdir dan melepas semua beban. Esoknya, hari eksekusi tiba tapi ia dibebaskan. “Perang sudah usai,” kata sipir “pulanglah.” Tentu Pablo syok, seharusnya ia mati, tapi mendadak tak jadi. “Lalu apa yang akan kau lakukan Pablo?” tanya sipir. “Aku akan pulang dan memberikan yang terbaik hari ini.”

Hikmah menarik baru kita dapatkan diakhir cerita. Ketika sebuah pernyataan terlontar dari sang penulis yang mengisyaratkan, “tak perlu kau cemaskan kematian, karena itu sudah pasti. Hiduplah sebaik mungkin, karena kesempatan kedua seperti Pablo tidak untuk semua orang.” Karena atheis Satre tidak memedulikan kematian, tapi ia selalu berusaha memberikan yang terbaik selama hidup. Baginya, satu-satunya kesempatan kita untuk berbuat baik adalah semasa hidup.

Tidak Ada Kesempatan Kedua

Begitulah kira-kira. “Kita bukan Pablo,” kata Sartre. Jarang sekali orang mendapatkan ‘kesempatan’ kedua dalam hidup. Tapi, apakah perlu kita ‘mencium’ bibir kematian dulu baru menyadari dosa dan kesalahan masa lampau? Apa perlu menunggu gelap sehingga kita tersadar tak satupun lilin yang kita bawa? Tentu tidak seperti itu. Sejatinya kita tidak perlu meloncat ke jurang untuk mengetahui kedalamannya.

Cukuplah kematian seseorang memberikan kita pelajaran dan hikmah. Tugas kita selaku manusia adalah mempersiapkannya dengan cara memberikan yang terbaik selagi hidup. Seorang atheis seperti Sartre saja selalu memberikan yang terbaik. “Karena inilah satu-satunya waktu yang saya punya,” ujarnya. Tentu bagi kita yang Muslim, kesadaran macam ini harusnya selangkah di depan.

Kematian adalah sesuatu yang pasti. Karena itu kita tidak perlu cemas akan kedatangannya. Tentu hal ini bukan berarti kita tidak peduli. Justru sebaliknya, kita sebaiknya berfokus kepada kebaikan yang kita lakukan selama hidup. Karena satu-satunya waktu bagi kita untuk mengumpulkan ‘bekal’ adalah ketika hidup. Sehingga saat ‘waktunya’ tiba, kita berada dalam kondisi ‘memberikan yang terbaik’.

Kita tidak akan mendapatkan ‘kesempatan’ kedua dalam hidup. Meskipun ada, itu hanya terjadi bagi segilintir orang saja. Bukankan kita kerap diwanti-wanti untuk selalu berlomba dalam kebaikan (Al Baqarah:148)? Bahkan Allah mengisyaratkan kita untuk selalu memperbaiki hidup selama di dunia (Al Mumin:39). Manfaatkanlah sebaik mungkin kesempatan yang diberi. Bagi umat Muslim, amal kebaikan tentu perlu dibarengi dengan iman dan takwa.

Karena perbuatan, sekalipun itu baik dihadapan manusia, belum tentu akan membawa kita ke surga kelak. Seperti yang diajarkan olah Rasul, bahwa setiap perbuatan bergantung pada niat. Niat yang baik tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Begitu juga sebaliknya. “Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya (Al Kahfi:103-104).”

Anggaplah kita tak seberuntung Pablo, yang diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Karena itu tunggu apa lagi, segeralah beramal saleh. Seperti kata sebuah pepatah katakan, “ingatlah kita hanya mati sekali, jadikanlah itu berarti bagi dirimu.” Bukankah kematian itu ibarat cambuk bagi kita? 

Iklan

2 thoughts on “Hidup Untuk Hari Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s