Islam Memandang Harta

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Al Kahfi : 46)

Harta ibarat kuda rodeo; liar dan sulit dikendalikan. Bila tak lihai, koboi mudah jatuh olehnya bahkan ada yang terinjak-injak hingga tewas. Tapi bagi yang pandai, ia hanya terguncang sebentar lalu mampu mengendalikan diri setelahnya. Meski tak terlalu sederhana, begitulah kira- kira analogi harta di dunia ini. Seperti pisau bermata dua; bila bijak menggunakannya maka harta akan berbuah kebaikan sebaliknya bila tak awas bisa berbuah petaka.

Secara bahasa harta berasal dari kata al maal yang bisa berarti ‘sesuatu yang yang dicintai’. Hal ini senada dengan kata al muyul yang bermakna kecenderungan, sehingga al maal kerap diartikan sebagai sesuatu yang cenderung dicintai oleh manusia. Allah menciptakan manusia dengan naluri insani adalah kecenderungan untuk mencintai lawan jenis, anak, serta materi (harta, jabatan, atau kedudukan). Hal ini berdasar pada firman Allah, “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang diinginkan, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Ali Imran : 14).”

Secara sepintas kita bisa langsung melihat bahwa Allah memang menciptakan harta (bisa berupa emas, perak, atau uang) sebagai hal yang ‘indah’. Karena keindahan itulah banyak manusia yang ingin memilikinya, meskipun terkadang ada yang lupa diri dan menggunakan segala cara. “Mencari harta yang haram saja susah, apalagi yang halal,” itulah ungkapan umum dimasyarakat yang hati dan pikirannya telah dibutakan oleh ‘keindahan’ duniawi yang semu. Padahal dalam surat lain Allah menegeskan bahwa harta adalah ujian bagi manusia (Ali Imran : 186) sekaligus sebagai cobaan; “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar (Al Anfaal : 28).”

Pada hakikatnya harta adalah amanah yang Allah titipkan, apakah kita mampu memberdayakannya dengan baik atau malah binasa karenanya. Oleh karena itu, kedudukan harta dalam Islam adalah sebagai bekal ibadah dan perjuangan Islam semata. Bukankah beberapa amalan saleh dalam Islam banyak yang bertalian dengan harta? Harta juga bisa menjadi sumber kekuatan untuk menegakkan kebenaran serta memberantas ketidakadilan. Bahkan, kita ditantang oleh agama untuk bisa ‘membeli’ surga dengan harta. Inilah makna harta yang hakiki, harta yang mampu membawa pemiliknya melangkah ke surga.

Lain halnya dengan mereka yang lalai. Mereka tak sanggup menahan diri dari kelezatan nikmat dunia yang sementara. dihabiskannya harta mereka dalam kubangan kemaksiatan. Karena mata dan hati telah buta, mereka tak sanggup lagi melihat kebenaran hingga langkah-langkah haram tak segan ditempuh. Bukankah sudah banyak contoh di negeri ini, tentang mereka yang ‘rakus’ harta hingga tak malu mencuri uang negara? Para koruptor, baik yang kecil apalagi yang kakap telah nyata merugikan negara. Bisa jadi kesejahteraan yang tak kunjung tiba bagi masyarakat dikarenakan ulah tamak para koruptor. Bila sudah begini, jangankan keberkahan bagi dirinya yang ada adalah bencana untuk masyarakat yang lebih luas!

Guna memastikan harta menjadi keberkahan bagi semua, maka Islam telah menyiapkan perangkat terbaiknya melalui syariat. Karena memang sedari awal Allah telah menunjuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga wajar bila syariat Islam senantiasa membimbing manusia untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran dalam bingkai pengabdian. Agar tugas akbar ini berjalan mulus, hendaknya kita meresapi; manhaj al hayah dan washilah al hayah terlebih dulu.

Jalan kehidupan (manhaj al hayah) umat muslim berpegang teguh pada wahyu ilahi dan sunnah Rasulullah. Implementasi ‘jalan yang lurus’ ini membuahkan tatanan kehidupan yang baik (hayah ath thayyibah), “barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik … (An Nahl : 97).” Sebaliknya, bagi mereka yang membangkang kehidupan yang sempit di dunia dan kesengsaraan kelak di akhirat telah menanti (Thahaa : 124-126). sedangkan washilah al hayah adalah semua sarana yang telah diciptakan Allah untuk keperluan manusia, salah satunya adalah harta benda. Penggunaan serta pengelolaan washilah yang satu ini haruslah mengacu pada manhaj al hayah. Alias, cara mendapatkan harta, penggunaan, hingga pendistribusian harus sesuati dengan ‘jalan’ yang telah ditetapkan oleh syariat.

Bila sinergi kedua elemen itu telah sempurna maka bisa dipastikan, harta yang dimiliki bisa membawa keberkahan. Tak cuma bagi pemiliknya, tapi untuk seluruh alam. Kini, pilihannya ada di tangan kita; akankah kita ‘membeli’ surga dengan harta yang kita miliki? Atau justru sebaliknya, harta menjadi ‘kendaraan’ tercepat kita menuju neraka?

Pemilik Harta Sejati

Sejatinya pemilik mutlak seluruh harta adalah Allah. Karena sesungguhnya Ia-lah pemilik langit dan bumi. Banyak keterangan dalam Al Quran yang menyandarkan kepemilikan harta hakiki kepada Allah (An Nur : 33, Al Hadid : 7, atau Nuh : 12). Lalu Allah melimpahkan wewenang kepengurusan (istikhlaf) harta di dunia kepada manusia (An Nisa : 6, At Taubah : 24 & 103, atau Al Lail : 11). Karena sifatnya hanya pengalihan wewenang pastilah ‘aturan main’ dan hukum-hukumnya pun ditentukan oleh Sang Pemilik. Misalkan dengan menghalalkan suatu transaksi dan mengharamkan transaksi lainnya. Hal ini dilakukan guna menjaga manusia dari perbuatan yang merugikan.

Sedangkan kepemilikan harta selama di dunia menurut Samith Atif Az Zain seperti yang dikutip Didin Hafidhuddin dalam Agar Harta Berkah & Bertambah (2007) terbagi kedalam tiga kelompok. Pertama, kepemilikan individu (private property). Artinya setiap orang punya hak yang sama untuk memiliki dan mengelolanya. Harta ini tentunya harus didapatkan dengan cara-cara yang telah ditentukan oleh agama, misalnya bekerja (dengan cara halal) atau harta warisan.

Kedua, kepemilikan umum (collective property). “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal : air, padang, dan api” (HR. Abu Daud). Hadis ini diinterpretasikan sebagai fasilitas yang sifatnya umum/ publik, aneka bahan tambang, hingga sumber daya yang sifatnya massal. Misalkan kepemilikan sumber air dan jalan raya. Biasanya collective property ini ditangani oleh instansi hukum yang lebih besar seperti pemerintah. Sehingga kepemilikan berikutnya adalah ‘harta’ milik negara (state property). Hakikat harta milik negara merupakan hak seluruh muslim akan tetapi pengelolaannya menjadi wewenang negara. Jadi tugas negara hanya pemegang amanah (caretaker) bukan alat untuk ‘menguasai’ apalagi sampai berlaku zalim. Setiap pengelolaan harta, baik individu maupun oleh negara telah Allah atur guna menciptakan keadilan dan keberkahan bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s