Menuju Sabar dan Ikhlas Paripurna (2-2)

sabar

“Jika saya berhasil membuat sebuah penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran saya dibandingkan dengan keahlian lain yang saya miliki.” – Isaac Newton (1642-1727)

Pernyataan diatas ada betulnya. Lihat saja, tokoh-tokoh dunia yang sukses. Kebanyakan dari mereka adalah ‘ahli sabar’. Sosok yang menginspirasi dunia, sekaligus Nabi Kebesaran Umat, Muhammad Saw. adalah seorang yang sabar. Kita bisa melihat bagaimana sebuah kesabaran mampu mengubah tatanan hidup masyarakat. Michael H. Hart dalam bukunya The 100 (1978), menempatkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia sepanjang masa.

Melalui teladannya, Muhammad mengajari manusia bahwa sabar adalah kunci. Jelas ia benar, dan banyak orang yang sudah membuktikannya. Issac Newton, menempati posisi kedua dalam daftar Hart juga membuktikannya. Siapa yang tak kenal ilmuan jenius satu ini? Fisikawan pencetus teori gravitasi ini juga mengaku sabar adalah kunci. Pasalnya, setiap penemuan yang ia hasilkan bukan terjadi seketika. Ada proses panjang yang melelahkan.

Tanpa sabar, orang mudah putus asa dan tak mau maju kembali. Newton tak seperti itu, ia bersabar dalam tiap kegagalan hingga berhasil. Tak cuma, Newton, tokoh non-muslim lainnya seperti Albert Einstein (1879-1955) juga mengakui hal serupa. Kutipan kata-katanya yang paling populer adalah, “Bukan karena saya pintar, namun karena saya menghadapi masalah lebih lama.” Ia mengaku, ketahanan seseorang ketika menghadapi masalah begitu menentukan.

Sabar merupakan mesin kehidupan, sedangkan ikhlas adalah bensinnya. Tentu konsep ini universal dan berlaku untuk seluruh manusia, tak cuma di Islam. Tentu kita selaku Muslim seharusnya bisa selangkah lebih, karena konsep sabar menyatu dalam ajaran Islam. Semua tokoh Islam, terutama tokoh-tokoh ‘pembuka’ adalah orang-orang sabar. Mereka menanamkan sabar kedalam diri sebagai ahlak mulia yang perlu diaplikasikan sehari-hari.

Lihat saja bagaimana Rasul diperlakukan oleh kaum kafir dari Mekah. Abu Bakar yang harus menghadapi orang-orang munafik pasca meninggalnya Rasul. Umar yang diterjang banyak musibah. Usman, Ali, Aisyah, dan semua sahabat rasul lainnya. Mereka semua tak kenal kata mengeluh, apalagi memble saat hadapi cobaan. Konsep sabar yang mengakar pada jiwa sahabat menjadikan mereka mampu meraih kegemilangan dalam hidup, plus kegemberiaan di akhirat kelak.

Hart diakhir bukunya menjelaskan bagaimana tokoh-tokoh dunia menjadi begitu sukses dalam hidup. Salah satu rahasianya adalah ketahanan diri yang mumpuni. Seperti dikatakan Einstein, bahwa orang besar dan sukses mampu bertahan lebih lama dalam masalah dibanding mereka yang biasa-biasa saja. Kesabaran merupakan ‘senjata’ terbaik dalam ‘bertahan’ di kesulitan. Sabar adalah satu bentuk usaha. Artinya ketika sulit melanda, orang yang sabar akan berusaha untuk keluar dari lingkaran tersebut. Bukan malah jatuh terpuruk, apalagi sampai tak bisa bangkit!

Belajar Sabar dari  Rasul

Dr. Iman Abdul Mukmin dalam Meneladani Akhlak Nabi (2006) menempatkan ahlak sabar sebagai salah satu ahlak Rasul yang patut ditiru. Diantara banyak ahlak mulia yang dimiliki rasul, beberapa dianggap menonjol; amanah, jujur, ihsan, sabar, dan tepat janji. Tentu saja ahlak mulia lain juga sangat dan perlu kita contoh. Islam, kata Iman, tak bisa dilepaskan dari sosok Rasul itu sendiri. Muhammad selaku tokoh sentral umat, punya peran kunci dalam membangun peradaban Islam.

Uniknya, bukan pedang dan mesiu yang jadi alat utama perubahan, melainkan teladan. Banyak, pakar yang menyatakan bahwa keberhasilan kepemimpinan Rasul ada pada teladan yang ia contohkan. Salah satunya adalah ahlak sabar yang ia contohkan. Iman menjelaskan, sabar merupakan ahlak yang tak tercipta begitu saja. Perlu latihan dan kerja keras untuk mendapatkan ahlak yang satu ini.

Suatu ketika, ketika Rasul pergi ke Thaif untuk berdakwah. Bukan penyambutan dan perlindungan yang ia dapatkan, tapi makian dan lemparan batu. Ketika itu, malaikat datang dan meminta izin untuk meletuskan gunung agar penduduk Thaif menderita. Tapi apa yang dilakukan Rasul? Ia berkata kepada malaikat, “tidak, aku hanya berharap semoga Allah melahirkan dari mereka keturunan yang mau menyembah Allah SWT tanpa menyekutukan-Nya (HR Bukhari)”. Pada tingkat seperti ini, kesabaran merupakan bukti iman terdalam. Tentu hal ini tidak mengisyrakat kita untuk diam saja, karena Rasul setelah itu pergi meninggalkan Thaif dan mencari tempat yang lebih baik; Yastrib. Terbukti dengan kesabaran Rasul mendapat kemudahan di Yastrib, yang kemudian ia ubah menjadi Madinah.

Kisah diatas hanya satu dari sekian banyak teladan yang contohkan Rasul. Diakhir kepemimpinan, ia berhasil merubah masyarakat Arab. Tak cuma itu, ajaran Islam yang dibawa oleh Rasul berhasil menjadi salah satu agama terbesar saat ini. Sumbangan Islam pada dunia juga tak bisa diremehkan, mulai dari sains, teknologi, budaya, hingga seni. Kita bisa melihat bagaimana kesabaran yang dilakukan seorang Muhammad mampu merubah wajah dunia. Tak bisa dibayangkan, jika dahulu Rasul tak memiliki jiwa yang sabar.

Kunci utama dalam meraih kesabaran paripurna, menurut Iman adalah menjauhi maksiat. Hal ini senada dengan pendapat Aam Amiruddin di tulisan sebelumnya. Bagi Iman, sabar dalam menjauhi maksiat adalah lebih utama dari sabar yang lain. Pasalnya, dengan menjauhi maksiat maka jalan untuk melaksanakan ibadah lain akan terbuka. Dengan begitu, kualitas waktu yang dimiliki seseorang akan lebih baik. Semoga saja, kita berada di dalam golongan orang yang sabar dalam beribadah dan menjauhi maksiat. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s