Menuju Sabar dan Ikhlas Paripurna (1-2)

sabar

Sebelum lebih dalam, kita perlu luruskan perihal pengertian. Tak jarang masyarakat salah mengartikan kesabaran dan keikhlasan. Banyak yang mengira sabar adalah diam saja, misalkan ketika mendapat cobaan. Bahkan, ketika disakiti atau hak dirampas banyak orang yang diam saja dengan dalih bersabar. Jelas ini pengertian yang keliru!

“Ini merupakan sabar yang salah,” tegas KH. Deddy Rahman dalam sebuah wawancara. Ia juga menyatakan pengertian sabar yang ada dimasyrakat sudah melenceng. Ketika seseorang dizhalimi jelas kita tidak bisa diam saja. Tak cuma bersifat individual, sabar juga memiliki dimensi yang lebih tinggi yakni dimensi sosial. Dalam hal ini sabar memiliki makna perubahan kearah yang lebih baik. Lagi-lagi ini merupakan bentuk usaha.

Contohnya, ketika menemukan hal buruk dimasyarakat maka dengan kesabaran kita akan memperbaikinya. Bukan malah diam saja, apalagi sampai kukulutus mencari kambing hitam. Sehingga kurang tepat bila sabar disandingkan dengan aktivitas pasif saja. Mengingat ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa sabar akan membantu berbagai amal. Secara tidak langsung kita diberitahu bahwa ada usaha dalam kesabaran.

Lebih lanjut Deddy menjelaskan, sabar bukan perkara mudah apalagi bagi yang beriman lembek. Karena dalam sabar butuh pengorbanan dan ketaatan. Salah satunya adalah sabar dalam melakukan ibadah. Tanpa ketaatan jelas hal ini akan sulit, tetapi sebaliknya dengan taat ibadah tersulit pun akan terasa mudah.

“Shalat subuh misalnya, bagi orang munafik akan terasa begitu berat,” kata Ustadz yang rutin mengisi Dialog Islam di Garuda FM itu. Tapi bagi orang beriman, Ibadah Haji sekalipun sulit akan dilakukan sepenuh hati. Padahal dalam Ibadah haji repotnya bukan main, pengorbanan yang kita keluarkan juga tak sedikit. Nah disinilah sabar berperan, tak cuma menguatkan iman tapi juga membantu amalan kita (naik haji).

Lalu bagaimana dengan ikhlas? Apakah betul ikhlas seperti yang dikatakan orang-orang, yakni hanya berharap kepada Allah semata. Bila kita lihat definisi secara populer memang inilah ikhlas, yaitu hanya mengharap Ridho Illahi dari setiap amalan yang kita perbuat. Tapi, Deddy punya pemahaman lebih. Baginya, ikhlas tak selalu murni karena Allah! Lho, bagaimana bisa?

Begini, masyarakat kerap menyandingkan kata ikhlas dengan hal positif. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kata ‘ikhlas’ diperlakukan serupa dengan kata ‘akhlak’ yang sama-sama selalu dikonotasikan positif. ‘Ahlak’ yang kita kenal tak selalu baik, ada juga yang buruk. Karena di dalam Al Quran kita mengenal dua jenis ahlak; Al Akhlaaqul Mahmudah (terpuji/ baik) dan  Al Akhlakul Madzmuumah (tercela/ buruk). Misalkan jujur, amanah, berbudi luhur, dan suka memberi maaf merupakan ahlak terpuji. Sedangkan korupsi, egois, hianat, dendam, dan dusta adalah contoh ahlak tercela.

“Konsep ikhlas pun hampir mirip dengan ahlak, ada yang baik dan buruk,” tutur Deddy. Bahkan ada orang yang ikhlas ketika melakuka maksiat! Pengertian ikhlas menurut Deddy adalah melakukan suatu pekerjaan yang hati ‘tidak menolak’. Melakukan shalat bisa menjadi ikhlas apabila hati kita tidak menolaknya. Banyak yang bilang bahwa hati kecil manusia selalu berkata kebenaran atau selalu ingin melakukan hal baik. Ternyata hal ini memang betul. Seorang peneliti dari Jepang, Kazuo Murakami dalam bukunya The Divine Message of The DNA (2008) membuktikannya.

Kazuo mengungkap setiap manusia terlahir dengan ‘Gen Tuhan’, yang menjadikannya senantiasan berbuat baik. Bagi Kazuo, seburuk-buruknya perilaku manusia pasti ada sisi dalam jiwanya yang ingin melakukan hal baik. Inilah yang disebut dengan ‘Gen Tuhan’, bukti bahwa tabiat manusia memang selalu baik. Begitu juga cara kerja ikhlas. Ia senantiasa mendorong manusia untuk berbuat baik. Meski tak dipungkiri, bila hati manusia sudah gelap, ia kesulitan membedakan baik dan buruk.

Bagi mereka yang ikhlas dalam maksiat, berarti ada ‘sesuatu’ yang menutup hati mereka. Bisa karena rutinnya bermaksiat, atau dosa-dosa kecil yang tak terasa. Bila kita membaca buku karya Aam Amiruddin yang berjudul Ketika Dosa Tak Dirasa (2011), maka kita bisa mengetahui bagaimana dosa-dosa kecil bisa menutupi hati kita. Dosa kecil yang rutin dilakukan akan membuat hati kita ‘buta’ dan sulit untuk menerima kebenaran.

Inilah yang menyebabkan seseorang bila melakukan maksiat seolah tak merasa bersalah. Ikhlas macam ini yang jarang diketahui oleh masyarakat. Ikhlas yang ternoda oleh nafsu dan kepentingan semata. Deddy mengingatkan bahwa kita perlu waspada, bahkan urusan ikhlas sekalipun. Ia berpesan agar umat muslim senantiasa memelihara hatinya dari hal batil. Sebab, hati yang taqwa senantiasa berharap ridho Illahi semata.

Ujian Sesungguhnya

Musibah silih berganti yang datang bisa jadi cobaan untuk umat muslim, pembuktian kualitas sabar mereka. Musibah bisa jadi cobaan atau bencana, bahkan tak jarang jadi malapetaka. Hal itu tergantung pada siapa yang menerima musibah itu. Seorang Umar bin Khatab bila ditimpa suatu musibah, ia akan bersyukur atas tiga hal. Pertama, ia bersyukur karena musibah yang menimpa dirinya tidak sebesar musibah lain. Hal kerap dilakukan oleh sebagian besar orang Sunda. Misalkan ketika ditimpa musibah kecelakaan, mereka akan berkata, “untung weh teu nanaon.”

Ternyata kebiasaan membandingkan ini tak selamanya buruk. Kata Deddy, justru membandingkan musibah yang kita terima dengan yang lebih besar adalah baik. “Selain untuk menghibur diri, hal ini juga bisa membuat kita makin bersyukur,” tuturnya. Apa yang dilakukan Umar bisa jadi bentuk sabar yang hakiki. Yakni menerima sebuah musibah dengan lapang dada sembari bersyukur. Bukan malah mengeluh mencari kesalahan orang lain, apalagi sampai ‘mengemis’ minta pertolongan.

Kedua Umar bersyukur karena setiap musibah yang menimpa dirinya pasti membawa hikmah. Simak saja Surat Al Insyirah ayat 5-6 yang secara tegas mengyatakan bahwa di setiap kesukaran pasti ada kemudahan. Begitulah janji Allah, dan Allah tak pernah inkar janji. Karena itu, Umar tak pernah mengeluh saat ditimpa sebuah ujian. Karena ia yakin, bahwa selalu ada jalan ditiap kesulitan. Ketiga, Umar bersyukur karena musibah yang menimpa dirinya bukan ‘musibah agama’. Deddy menegaskan, musibah seperti ini adalah musibah yang sesungguhnya!

Lantas seperti apa musibah agama ini? Ialah ketika amanah dan rasa malu dicabut. Bila seseorang mulai tak peduli lagi dengan amanah, maka berhati-hatilah. Terlebih bila orang sudah tak tahu malu. Bencana bisa saja menimpa sebuah masyarakat bila para pemimpin mulai inkar dan orang-orang sudah punya rasa malu. Ditingkat musibah kronis seperti ini, sabar perlu dibuktikan dengan sebuah usaha. Usaha untuk memperbaiki keadaan. Diam saja ditengah masyarakat yang seperti itu sama saja dengan menyerah kepada kedzaliman!

Disinilah kesabaran umat muslim yang sesungguhnya diuji. Tak cuma menuntut keimanan ditataran individu, tapi lebih dari itu; perubahan dinanti dari buah kesabaran umat muslim. Bukan tak mungkin kesabaran yang dilandasi oleh iman dan takwa mampu mengubah masyarakat jadi lebih baik. Bukankah, Rasul telah mempraktikannya 14 abad yang lalu? Dengan kesabaran, ia mampu merubah masyarakat Arab yang semula Jahiliyah menjadi masyarakat Madani. Inilah makna kesabaran yang sejati!

Cara Terbaik Tetap Sabar dan Ikhlas

Tips pertama, Deddy mengungkap, paling penting adalah meluruskan niat. Niat yang benar mewujudkan ketaatan hakiki. Ketaatan akan melahirkan kesabaran yang dibarengi dengan sikap ikhlas. Dari situ kita bisa lihat, sabar dan ikhlas saling bertautan. “Memang keduanya tak bisa dipisahkan,” kata Deddy. Meluruskan niat bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana; siapa kita, darimana kita kita berasal, dan akan pergi kemana kita kelak? Terlihat biasa saja, tapi pertanyaan ini mengandung makna mendalam.

Kedua, adalah menjaga pikiran tetap positif. Kazuo menjelaskan, Gen Tuhan tak mungkin bekerja sempurna tanpa adanya unsur kesengajaan. Maksudnya ada efek sebab akibat. Setiap orang ditakdirkan menjadi orang baik. Tapi, seiring berjalannya waktu bila takdir ini tidak dibarengi ikhtiar bukan tak mungkin ia berubah bengal. Karena itu otak kita perlu diprogram agar tetap positif. Ia juga menerangkan, pengaruh pikiran positif ini akan membuat hati kita senantiasa tenang dan jauh dari perilaku menyimpang.

Terakhir, mengutip dari buku Aam Amiruddin, adalah menjauhkan diri dari dosa kecil. Ternyata yang ‘kecil’ ini bila dianggap remeh bisa fatal. Tak cuma mengeraskan hati tapi juga membuat kita sulit menerima kebenaran. Menjauhkan diri dari dosa kecil juga mampu menjaga hati tetap ikhlas akan ridho ilahi. Bila ketiga langkah praktis ini dilakukan kontinyu, Insyaallah hati tak mudah kasak-kusuk serta lebih mudah bersabar dalam beribadah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s