Bijak Bilang InsyaAllah

“Kapan?”

“Besok jam satu siang”

“Oke, InsyaAllah!”

Keesokan harinya, Udin tidak datang. Kejadian seperti itu seolah menjadi biasa di masyarakat kita. Bahkan bila kita bilang, “InsyaAllah,” teman yang lain nyahut  “InsyaAllah mana nih?!” Entah karena kebiasaan atau memang berniat tidak hadir, kita jadi kerap curiga dengan kalimat itu. Dalam benak kebanyakan kita, bila seseorang sudah mengatakan “InsyaAllah” biasanya jadi legitimasi untuk melanggar janjinya.

Sepertinya yang terjadi pada Busyro, teman Udin yang mengaku kesal. Ia beranggapan bahwa pertemuan mereka penting, tapi Udin tak mengindahkan. InsyaAllah yang diucapkan Udin cuma kedok belaka agar ia tak terlalu disalahkan. “Padahal jika Udin mau berangkat, Allah pasti mengizinkan,” gerutu Busyro. Apakah InsyaAllah yang biasa kita ucapkan sehari-hari seenteng itu? Bukankah selalu ada konsekuensi dari janji yang kita umbar. Begitu juga dengan kata InsyaAllah! Kalau tak bijak, bisa gawat.

Dalam Al Quran, kata InsyaAllah disebut pada Surat Al Kahfi ayat 23-24. Surat itu dengan tegas mengatakan, jangan sesekali mengatakan sesuatu yang belum pasti kecuali menyebut InsyaAllah. Secara harfiah, kata InsyaAllah dapat diartikan “Jika Allah Menghendaki.” Tentu kita selaku mahluk tak punya kuasa atau kehendak akan hari esok. Karena itu kita sebaiknya menyerahkan pada Yang Maha Kuasa.

Makna kata InsyaAllah juga sebenarnya sangat dalam. KH Q Shaleh dalam Asbabun Nuzul (1995) menukil sebuah riwayat tentang turunnya Surat Al Kahfi ayat 23-24 diatas. Ketika itu, kaum Quraisy mengutus An Nadlr bin Al Harts dan Uqbah bin Abi Muith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah. Maksudnya untuk menanyakan perihal kenabian Rasul.

Pendeta berkata, “Tanyakanlah kepada Muhammad tiga hal. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh. Jika dapat menjawabnya, ia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi.”

Tiba di Mekah mereka bertanya pada Rasul. Ia bersabda, “aku akan menjawab pertanyaan kalian besok.” Ternyata esok hari jawaban dari langit tak kunjung tiba. Bahkan, diriwayatkan Rasul sampai menunggu hingga lima belas hari. Ketika itu Rasul jadi cemoohan kaum Quraisy, karena dianggap nabi abal-abal. Barulah malaikat Jibril turun membawa wahyu. Isinya bukan jawaban atas pertanyaan kaum Quraisy, malah teguran untuk Rasul. Turunlah Surat Al Kahfi tersebut.

Shaleh menjelaskan, ayat ini dimaksudkan untuk menegur sikap nabi yang tidak hati-hati. Tentu saja Rasul banyak belajar atas kejadian itu; Bahwa manusia tak kuasa akan hari esok. Sungguh agung makna InsyaAllah sebenarnya. Karena melalui kata ini, kita menunjukan ketergantungan kita atas ketentuan Allah (tauhid). Melalui InsyaAllah pula, kita diajarkan agar tidak sombong dan sesumbar dalam berjanji.

Selepas menerima pelajaran berharga dari Allah, Rasul pun mendapat wahyu yang isinya jawaban dari pertanyaan kaum Quraisy. Jibril menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara roh (17:85). Kaum Quraisy sontak terkejut. Hal ini membuktikan bahwa Rasul benar-benar utusan Allah.

Nah, bila kita simak sejarahnya penggunaan kata InsyaAllah tak bisa sembarangan. Ada konsekuensi di dalamnya. Apalagi bila kita berjanji, tentunya harus ditepati. Bukankah janji adalah hutang? Harus lunas sebelum mati. Dalam kasus Udin, jelas-jelas terjadi penyelewengan. Baik dari segi arti kata maupun makna. Selain merugikan sesama, sikap Udin juga sudah merendahkan makna InsyaAllah!

“Ingat Din, InsyaAllah itu bukan berarti gak janji,” kata Busyro mengingatkan. “Jika memang tak bisa atau tak mau datang, bilang saja. Atau bila masih ragu, cukup bilang ‘gak janji ya, besok dikasih kabar lagi’ begitu,” tambahnya.

Iklan

One thought on “Bijak Bilang InsyaAllah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s