Agama Pilar Dasar Konservasi Lingkungan

lingkungan

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya, rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Al Araf: 56)

Sedari Adam diciptakan, manusia telah mengemban misi agung tentang konservasi semesta. Selaku wali Allah di bumi, manusia bertanggung jawab atas kelestarian aneka hayati. Islam menempatkan manusia sebagai fokus kehidupan. Karena itu salah satu tujuan penciptaan bumi beserta isinya sangat berkaitan dengan keperluan hidup manusia (Lukman: 20). Tak heran bila Allah menunjuk manusia untuk mengurusnya. Tentu saja hal ini tak berjalan mulus dan mudah. Bukankah malaikat pernah mengkritisi tentang tugas manusia ini dengan pertanyaan, “padahal mereka (manusia) merusak dan menumpahkan darah disana (bumi)?” (Al Baqarah: 30).

Tentu saja Allah lebih tahu ketimbang malaikat. Meski tak kita pungkiri, kekhawatiran malaikat sangat masuk akal dan benar adanya. Lihat saja apa yang dilakukan perusahaan tambang dan mineral lakukan terhadap lingkungan. Belum lagi pembangunan yang tak pedulikan ekosistem membuat tanah dan air makin kritis. Limbah-limbah pabrik dan domestik cemari sungai, laut, bahkan udara. Perang dan konflik hampir seumur dengan usia manusia itu sendiri. Darah tak berhenti mengalir di berbagai belahan dunia, lihat saja Palestina, Mesir, Tunisia, Chechnya, Myanmar, dan banyak lagi.

Perilaku barbar dan korup manusia telah mengantarkan mereka pada krisis kemanusiaan level kritis. Bahkan di era modern seperti sekarang sekalipun, dimana orang-orang begitu mengelu-elukan keberagaman dan sinergi tetap saja penuh luka dan duka. Ternyata PBB selaku organisasi keamanan dunia cuma parodi belaka. Menumpahkan darah sesama manusia saja sudah menjadi biasa. Apalagi pada lingkungan dan hewan, sudah pasti lebih kejam lagi.

Beberapa tahun yang lalu publik Indonesia sempat dikejutkan oleh ulah orang-orang ‘gila’ dalam mengeksploitasi hewan. Simak saja kisah Pony, seekor Orang Utan dari Borneo yang dijadikan pelacur oleh pemiliknya. Pony dipaksa dan diajari perilaku bejat untuk memenuhi syahwat para lelaki sinting disana. Kondisinya sangat mengenaskan dan kisahnya membuat kita merinding. Bagaimana tidak, Orang Utan betina berumur 6 ini digunduli oleh pemiliknya dan dijajakan pada sebuah lokalisasi. Pony, diselamatkan oleh komunitas pencinta hewan setempat 2003 lalu. Mereka mengaku betapa sulitnya mengevakuasi Pony bersama 7 Orang Utan lainnya dari sana.

Lalu ada kisah Melani, Harimau Sumatera milik Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang kurus kering tak terurus. Tak cuma kurus, Melani juga keracunan daging yang berformalin. Kini ia diselamatkan oleh Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) Juli 2013 lalu, sekarang dirawat di Taman Safari Indonesia dengan kondisi yang masih lemah. Kisah pilu juga terjadi dari Aceh pada bulan yang sama. Kali ini Papa Genk, Gajah Sumatera yang jadi korbannya. Ia dibantai dengan cara mengerikan hanya untuk diambil gadingnya. Gajah malang itu ditemukan di Desa Ranto Sabon dengan kondisi kepala pecah berlumur darah tanpa gading.

Sifat lalai dan dzalim inilah lantas Allah mengutus para nabi dan rasul, guna membimbing umat manusia menuju jalan lurus. Rasulullah mengajarkan umat Islam untuk menghargai kehidupan. Bukan cuma manusia tetapi seluruh mahluk ciptaan Allah, baik di bumi maupun di langit. Ibnu Hayyan (722-804) menjelaskan maksud Al Araf: 56 sebagai larangan untuk merusak lingkungan hidup. Surat ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk senantiasa menghargai lingkungan. Bahkan, dalam kondisi perang sekalipun umat dilarang merusak tumbuhan dan membunuh hewan.

Bila kita tengok sunnah Rasul, maka tak cuma perihal ibadah transenden semata yang kita temukan. Mulai dari menjaga silaturahmi antar umat, tata cara mengelola masyarakat, strategi perang, hingga konservasi alam. Ingatkah kita pada satu kisah mahsyur di dunia Timur, tentang sorang wanita yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing? Bahkan berbuat baik kepada anjing sekalipun berbuah pahala di mata Allah.

Rasul pernah bersabda, “barangsiapa di antara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari kiamat (HR Muslim).”

Selain ibadah-ibadah vertikal, sunnah juga mengajari kita untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Sangatlah wajar ketika era Rasul dan Khalifah yang empat, disebut-sebut sebagai masa paling gemilang Islam. Tak cuma urusan spiritual, sosial, dan politik belaka, bahkan urusan ekologi pun mereka menjadi role model kerajaan lain. Inilah konsep Islam yang sesungguhnya; Rahmat Bagi Alam Semesta. Tak cuma kepentingan manusia dengan tuhannya, sesama manusia, tanggung jawab akan pemeliharaan alam semesta pun menjadi tugas manusia.

Pesan Allah dan Rasulnya sangat jelas perihal konservasi lingkungan hidup. Islam melalui Al Quran dan Sunnah mengajari kita tentang tata kelola lingkungan yang mesti dilakukan secara sungguh-sungguh oleh tiap muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s